Tuesday, 13 October 2015

PEMANFAATAN LIMBAH BATANG JAGUNG SEBAGAI ADSORBEN ALTERNATIF PADA PENGURANGAN KADAR BESI DALAM AIR LEDENG

PERCOBAAN I
PEMANFAATAN LIMBAH BATANG JAGUNG
Kelompok 8

I. Tujuan
1. Mengetahui bagaimana proses pemanfaatan limbah batang jagung sebagai adsorben pada pengurangan kadar besi dalam air ledeng.
2. Memanfaatkan limbah bekas makanan sebagai adsorben penjernih air.

II. Dasar Teori
Melihat pentingnya pemakaian karbon aktif dalam industri sebagai adsorben dan harganya cukup mahal, maka sebagai adsroben alternatif dimanfaatkanlah limbah batang jagung. Penelitian ini adalah tentang pemanfaatan limbah batang jagung sebagai adsorben alternatif pada pengurangan kadar Besi dalam Air Ledeng. Metode pembuatan arang aktif yang digunakan adalah metode aktivasi kimiawi dengan aktivator asam sulfat (H2SO4).
Penelitian mengenai adsorben alternatif sebelumnya telah banyak dilakukan, diantaranya adalah :
1. Penelitian mengenai adsorben alternatif dimana karbon aktif dibuat dari alang – alang dengan hasil uji terhadap kadar abu, kadar air, bilangan iodine, angka asam,
massa jenis dan luas spesifik telah memenuhi persyaratan spesifik sebagai sebuah karbon aktif.
2. Penelitian tentang pembuatan karbon aktif dari kulit kacang tanah dimana kondisi terbaik daya serapnya terhadap larutan iodine yaitu pada suhu pemanasan 450 oC dengan lama pemanasan 90 menit dan daya adsorbsi sebesar 1296 mg/g.
3. Penelitian pemanfaatkan limbah batang jagung sebagai adsorben untuk menyerap ion Tembaga (II) menghasilkan kondisi optimum yang diperoleh pada kondisi aktivasi 300oC dan waktu aktivasi selama 1 jam.
Permasalahan pokok yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah mampukah adsorben dari batang jagung mengurangi kadar besi yang terdapat dalam air ledeng.

III. Metode Kerja
A. Alat dan Bahan
*Alat
-Mesh ukuran 60mesh
-Blender
-Oven
-Desikator
-Magnetic Stirer
-Indikator PH meter
-Kertas Saring
-Neraca Timbangan
-Statip&Buret
-Backer Glass
-Erlenmeyer
-Batang Pengaduk
-Corong
-Tabung Reaksi
-Labu Ukur
-Alumunium Foil

*Bahan
-5,6201 gram serbuk bonggol jagung
-H2SO4 5% 25ml
-Iodin 0,1 N 20ml
-Na2S2O3 0,1 N 10ml
-Indikator Amilum 1%
-Aquadest
-Air ledeng masing-masing 5ml
-Fe masing-masing 3ml

B. Cara Kerja
1. Bonggol jagung yang sudah dikeringkan pada panas matahari dipotong kecil-kecil sampai ukuran kurang lebih 0,5cm.
2. Setelah dipotong, bonggol jagung di blender sampai halus dan dapat disaring pada ayakan ukuran 60mesh.
3. Jika bonggol jagung sudah halus lalu direndam pada H2SO4 5%. Di tutup dengan alumunium foil dan di diamkan selama 24jam.
4. Setelah 24 jam, serbuk jagung yang sudah direndam lalu dicuci dengan Aquadest hingga PH-nya netral, dilakukan secara berulang dengan menggunakan kertas saring agar serbuk jagung tidak berkurang ketika dicuci di erlenmeyer.
5. PH diukur menggunakan indikator PH sampai PH menjadi netral. Dikeringkan pada udara terbuka sebentar.
6. Setelah serbuk menjadi netral lalu dikeringkan di oven pada suhu 105oC selama 24 jam.
7. selesai dikeringkan, diambil 1gram serbuk lalu dikeringkan lagi di oven selama 3jam pada suhu 110oC lalu didinginkan pada desikator.
8. Selanjutnya ditambahkan iodin 0,1 N 20 ml lalu diaduk menggunakan magnetic stirer menggunakan backer glass selama 15 menit. setelah itu disaring dan diambil filtratnya.
9. Dititrasi menggunakan NA2S2O3 0,1 N sampai warna kuning berkurang.
10. Selanjutnya ditambahkan indikator amilum 1% secukupnya lalu ditritasi lagi menggunakan NA2S2O3 secukupnya sampai larutan tidak berwarna.
11. Di uji filtrat limbah bonggol jagung pada air ledeng (5ml) yang dicampur dengan besi (Fe 3ml) dengan perbedaan perlakuan penambahan filtratnya, yaitu 0,5 ml, 1 ml dan 2 ml. Dibuat juga larutan blanko sebagai pembanding.
12. didiamkan selama 4-5 hari lalu dilihat kembali perbedaannya.

IV. Hasil pengamatan
Perlakuan Sampel
Hasil
Air+Fe+adsorben 0ml (blanko)
Tetap (kuning)
Air+Fe+adsorben 0,5ml
Kuning sedikit pudar
Air+Fe+adsorben 1ml
Kuning pudar
Air+Fe+adsorben 2ml
Bening

V. Pembahasan
 Pada percobaan kali ini mengenai pemanfaatan limbah batang jagung sebagai adsorben dalam pengurangan kadar besi yang kami campurkan pada air ledeng. dalam praktikum ini kami melakukan tiga perlakuan dalam pengujian penyerapan kadar besi adsorben dalam air ledeng. yaitu 0,5ml, 1ml, dan 2ml.

Pertama-tama kami menggunakan 3 bonggol jagung yang ada lalu kami keringkan menggunakan sinar matahari selama kurang lebih 3hari. setelah bonggol jagung benar-benar kering bonggol jagung di potong kecil-kecil dengan ukuran kurang lebih 0,5cm. Lalu bonggol jagung yang sudah dipotong di blender dengan blender logam yang kami gunakan hingga dapat disaring pada ayakan ukuran 60mesh yang tersedia. Serbuk jagung yang dihasilkan sebanyak 5,6201 gram.

Setelah diayak, serbuk jagung direndam pada larutan H2SO4 dengan konsentrasi 5% 25ml. Didiamkan rendaman tersebut selama 24 jam. H2SO4 5% digunakan sebagai Aktivator dengan metode aktivasi kimiawi. setelah diaktivkan lalu hasil rendaman dicuci dengan menggunakan awuadest agar PH berubah menjadi Netral. kurang lebih PHnya 6-7. Disaring dengan menggunakan kertas saring pada erlenmeyer.

Setelah dicuci berulang kali menggunakan aquadest dan kami mendapatkan PH 6 dengan lama pencucian kurang lebih 3 jam. Digunakan kertas saring agar serbuk jagung tidak berkurang karena proses pencucian. Lalu dilakukan proses pengeringan pada udara terbuka lalu di masukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu 105oC.

Setelah 24 jam proses pengovenan, serbuk jagung yang dikeringkan di timbang dan dihasilkan sebanyak 1,4531 gram serbuk jagung. 1,4531 gram serbuk jagung dikeringkan kembali pada oven dengan suhu 110oC selama 3jam lalu didinginkan pada desikator.

Setelah dingin, ditambahkan larutan iodin 0,1 N sebanyak 20 ml lalu diaduk dengan menggunakan magnetic stirer selama 15 menit. Setelah itu diambil filtratnya sebanyak 10ml. Lalu setelah itu dititrasi dengan menggunakan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai larutan tidak berwarna dan mejadi bening setelah dititrasi dengan 9ml NA2S2O3.

Ditambahkan indikator Amilum 1% secukupnya lalu kami titrasi kembali dengan Na2S2O3 sebanyak 3ml. setelah selesai, filtrat batang jagung siap diuji coba pada air ledeng yang dicampur dengan Fe. Dibuat blanko, filtrat 0,5ml, 1ml, dan 2ml. Dengan air ledeng 5ml dan penambahan Fe masing-masing 3ml. Dibuat pada 4 tabung reaksi yang berbeda.

Setelah dibagi kedalam 4 tabung reaksi, lalu masing-masing didiamkan selama 4-5 hari. dan dilihat kembali hasil yang didapatkan. Hasil yang kami dapat ketika sudah didiamkan selama 5 hari penambahan filtrat 2ml lebih baik untuk digunakan sebagai adsorben, karena semakin banyak filtrat yang diberikan hasil yang dihasilkan semakin baik. larutan yang awal mulanya mengandung Besi dan berwarna Orange berubah warna menjadi bening ketika ditambhkan filtrat 2 ml. Sedangkan penambahan filtrat 0,5 ml menghasilkan warna kuning sedikit pudar, filtrat 1 ml berwarna kuning pudar. dan blanko tetap karena digunakan sebagai warna pembanding. Dalam percobaan ini kami menggunakan metode Analisis Kualitatif yaitu melalui perbandingan warna yang terjadi secara kasat mata.

Dalam penggunaan limbah batang jagung yang kami gunakan bukan serbuknya namun filtratnya yang kami gunakan sebagai adsorben pada air ledeng yang mengandung Besi. Filtrat tersebut sudah direaksikan dengan larutan Iodin dan Na2S2O3. Dan ternyata meskipun filtrat yang kami gunakan, tetap dapat menyerap Fe dalam Air ledeng dengan merubah warna yang tadinya berwarna kuning menjadi bening kembali. Penelitian dan percobaan ini kami lakukan selama 1 minggu dimulai pada tanggal 16 september 2015.

VI. Kesimpulan
1. Limbah bonggol jagung dapat digunakan sebagai adsorben pada pengurangan kadar Besi dalam air ledeng.
2. Filtrat dari bonggol jagung dapat menyerap Besi dalam penjernihan air ledeng.
3. Filtrat yang baik adalah sebanyak 2 ml untuk digunakan dalam penjernihan air, itu berarti semakin banyak filtrat yang diberikan semakin jernih air yang digunakan.

VII. Daftar Pustaka
[1] Alaerts, G, Metoda Penelitian Air, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya, 1987.
[2] Dedi, S dan Gunawan, E, Pembuatan Arang Aktif dari Batang Jagung Menggunakan Aktivator Asam Sulfat dan Penggunaannya pada Penjerapan Ion Tembaga (II), Jurnal Makara Sains Vol 14 No.1, Jakarta, 2010.
[3] Djatmiko, B dkk , Arang : Pengolahan dan Kegunaannya, Penerbit Fateta IPB, Bogor, 1981.
[4] Ketaren, S, Kimia Minyak dan Lemak, Penerbit UI Press, Jakarta, 2003.
[5] Othmer, D.F And G.A. Fermstrom, Distillation of Bagasse, International Chemical Engineering Journal, 1941.

VIII. Lampiran
Serbuk bonggol jagung yang dihasilkan setelah diayak 60mesh



Prose pencucian serbuk bonggol jagung

PH Awal menunjukan sangat asam PH 2

Berat serbuk yang dihasilkan setelah dioven

Serbuk sebelum dikeringkan dan dioven kedua kalinya

Didinginkan pada desikator

ditambahkan Iodin 0,1 N

Diaduk menggunakan magnetic stirer

Disaring filtrat setelah di aduk dan ditambah Iodin

Proses Uji coba pada 4 perlakuan yang berbeda : Blanko, 0,5 ml, 1 ml dan 2 ml (dari Kiri ke Kanan)

Hasil-nya :
Hasil-nya adalah : Blanko, 0,5 ml, 1 ml dan 2 ml (dari Kiri ke Kanan) dan 2 ml lebih jernih dari pada perlakuan lainnya.


Wednesday, 9 September 2015

PEMANFAATAN LIMBAH BATANG JAGUNG SEBAGAI ADSORBEN ALTERNATIF PADA PENGURANGAN KADAR KLORIN DALAM AIR OLAHAN (TREATED WATER)

Melihat pentingnya pemakaian karbon aktif dalam industri sebagai adsorben dan harganya cukup mahal, maka sebagai adsroben alternatif dimanfaatkanlah limbah batang jagung. Penelitian ini adalah tentang pemanfaatan limbah batang jagung sebagai adsorben alternatif pada pengurangan kadar klorin dalam air olahan (treated water). Metode pembuatan arang aktif yang digunakan adalah metode aktivasi kimiawi dengan aktivator asam sulfat (H2SO4). Penelitian mengenai adsorben alternatif sebelumnya telah banyak dilakukan, diantaranya adalah :

1. Penelitian mengenai adsorben alternatif dimana karbon aktif dibuat dari alang – alang dengan hasil uji terhadap kadar abu, kadar air, bilangan iodine, angka asam, massa jenis dan luas spesifik telah memenuhi persyaratan spesifik sebagai sebuah karbon aktif .

2. Penelitian tentang pembuatan karbon aktif dari kulit kacang tanah dimana kondisi terbaik daya serapnya terhadap larutan iodine yaitu pada suhu pemanasan 450 oC dengan lama pemanasan 90 menit dan daya adsorbsi sebesar 1296 mg/g .

3. Penelitian pemanfaatkan limbah batang jagung sebagai adsorben untuk menyerap ion Tembaga (II) menghasilkan kondisi optimum yang diperoleh pada kondisi aktivasi 300oC dan waktu aktivasi selama 1 jam.

Cara membuat

      Penelitian mengenai adsorben alternatif dari batang jagung ini dilakukan dengan tahapan aktivasi, penentuan bilangan iodine dan tahap analisis. 
      Pada tahap analisis dilakukan dengan tahapan analisa larutan blanko, penentuan kadar klorin sebelum penambahan adsorben, dan penentuan kadar klorin setelah penambahan adsorben dari batang jagung. 

1-Pada tahap aktivasi bahan dasar (batang jagung) dikeringkan dan dipotong kecil – kecil (± 0.5 cm), 

2-Diblender. diayak dengan ukuran masing – masing 50 dan 75 mesh. Sebanyak 1000 gram tepung jagung ditambahkan dengan aktivator H2SO4 dengan konsentrasi masing – masing 1%, 3%, dan 5% sampai seluruhnya terendam, dibiarkan selama 24 jam. 

3-Hasil rendaman batang jangung dengan aktivator dicuci sampai tidak terdapat sisa asam dan dikeringkan di udara terbuka lalu dimasukkan kedalam oven dengan suhu 105 oC selama 24 jam.       

4-Masing – masing adsorben yang telah terbentuk ditentukan bilangan iodinnya dengan cara sebanyak 1 gram adsorben dari batang jagung ditimbang dan dikeringkan pada suhu 110o C selama 3 jam. Dilakukan pendinginan dalam desikator. 

5-Selanjutnya ditambahkan 50 mL larutan iod 0,1 N dan diaduk dengan magnetic stirer selama 15 menit. Disaring dan diambil sebanyak 10 mL filtrat.

6-Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuning berkurang. 

7-Selanjutnya ditambahkan beberapa tetes indikator amilum 1% dan dititrasi kembali sampai larutan tidak berwarna, dicatat volume Na2S2O3 0,1 N yang terpakai. 

8-Titrasi juga dilakukan untuk larutan blanko. 

9-Setelah diperoleh bilangan iodine dari masing – masing adsorben, lalu dianalisa kemampuan penyerapannya terhadap klorin dalam air olahan (treated water) . 

Tahap analisa yang dilakukan pada percobaan dengan prosedur tittrasi iodometri, dan terdiri dari tiga tahap, yaitu berupa analisa larutan blanko, analisa kadar klorin sebelum adsorbsi dan sesudah adsorbsi. Penentuan klor aktif sebagai mg Cl2/l dapat dilihat pada persamaan 1 :

Keterangan :

 A = ml titran Na2S2O3 untuk sampel B = ml titran Na2S2O3 0,01 untuk blanko (bisa positif atau negatif N = Normaliti larutan titran Na2S2O3 V = volume sampel (ml)


sumber : http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jtk/article/viewFile/1678/1700

Adsorpsi Logam Timbal (Pb) Dengan Menggunakan Biomassa Enceng Gondok (Eichhorniacrassipes)

Julhim S. Tangio
Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Gorontalo
Korespondensi: Jalan Jenderal Sudirman 6 Kota Gorontalo, 96128.

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan dari biomassa enceng gondok dalam mengadsorpsi logam Timbal (Pb). Dalam penelitian ini dikaji tentang adsorpsi Pb2+ pada biomassa daun enceng gondok.Mengingat pH larutan sangat berpengaruh pada adsorpsi ion logam oleh biomassa, maka dalam penelitian ini dikaji pula penentuan pH optimum terhadap adsorpsi Pb2+. Penentuan pH optimum dilakukan dengan cara menginteraksikan 25 mL ion logam Pb2+ 60 mg/L dengan 0,1 g biomassa daun enceng gondok (Eichhorniacrassipes) selama 60 menit pada variasi pH 3; 4; 5; 6,7; dan 8. Sebagai kontrol dibuat larutan kontrol untuk mengetahui kelarutan Pb2+ pada berbagai pH.Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pH terhadap adsorpsi logam Timbal (Pb) yang diikat oleh biomasa enceng gondok.

Kata Kunci : Adsorpsi, Timbal (Pb), Enceng gondok

PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk dunia yang sangat cepat dan perkembangan industri yang makin pesat menyebabkan makin banyak bahan buangan yang bersifat racun yang di buang ke lingkungan.Bahan-bahan buangan ini yang nantinya menjadi limbah dan mencemari lingkungan dalam jumlah yang sulit di kontrol secara tepat. Di Indonesia, sumber pencemar dapat berasal dari limbah rumah tangga, perusahaan-perusahaan, pertambangan, industri dan lain-lain. Zat-zat pencemar lebih didominasi oleh bahan buangan logam berat salah satunya adalah Timbal (Pb).
Keberadaan Timbal di lingkungan umumnya berasal dari polusi kenderaan bermotor, tambang timah, pabrik plastik, pabrik cat, percetakan, peleburan timah. Logam Pb diperairan merupakan suatu masalah yang perlu mendapat perhatian khusus, karena logam berat ini dapat berpengaruh buruk terhadap seluruh organismeyang ada di perairan dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan.(Nybakken, 1985) dalam (Sahara.E. 2009).
Fardiaz (dalam Sudarwin 2008) mengemukakan bahwa Timbal mempunyai berat atom 207,21; berat jenis 11,34; bersifat lunak serta berwarna biru atau silver abu - abu dengan kilau logam, nomor atom 82 mempunyai titik leleh 327,4ºC dan titik didih 1.620ºC. Timbal termasuk logam berat ”trace metals” karena mempunyai berat jenis lebih dari lima kali berat jenis air.
Timbal adalah sebuah unsur yang biasanya ditemukan di dalam batu - batuan, tanah, tumbuhan dan hewan. Timbal 95% bersifat anorganik dan pada umumnya dalam bentuk garam anorganik yang umumnya kurang larut dalam air. Selebihnya berbentuk timbal organik. Timbal organik ditemukan dalam bentuk senyawa Tetra Ethyl Lead (TEL) dan Tetra Methyl Lead (TML). Jenis senyawa ini hampir tidak larut dalam air, namun dapat dengan mudah larut dalam pelarut organik misalnya dalam lipid. Waktu keberadaan timbal dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti arus angin dan curah hujan. Timbal tidak mengalami penguapan namun dapat ditemukan di udara sebagai partikel. Karena timbal merupakan sebuah unsur maka tidak mengalami degradasi (penguraian) dan tidak dapat dihancurkan.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menurunkan konsentrasi ion logam dalam limbah cair diantaranya adalah pengendapan, penukar ion dengan menggunakan resin, filtrasi dan adsorpsi.Adsorpsi merupakan metode yang paling umum dipakai karena memiliki konsep yang lebih sederhana dan juga ekonomis. Proses adsorpsi yang paling berperan adalah adsorben.
Dewasa ini telah dikembangkan metode adsorpsi dengan menggunakan biomassa tumbuhan yang dikenal dengan fitofiltrasi.Dasar pemikiran dari fitofiltrasi adalah dengan mengunakan biomassa tumbuhan yang telah mati sebagai pengikat ion logam (Gamez., et al., 1999) dalam (Al Ayubi, 2007).Enceng gondok merupakan salah satu tumbuhan yang dapat mengikat ion logam.Penggunaan biomassa enceng gondok, selain murah merupakan metode yang efektif dalam mengikat ion logam berat, baik anionik maupun kationik, bahkan pada konsentrasi ion logam yang sangat rendah.Selain itu biomasa merupakan bahan yang bersifat biodegradabel sehingga ramah lingkungan.
Enceng gondok dikenal sebagai tumbuhan gulma air yang pertumbuhannya sangat cepat.Tidak heran kalau saat ini enceng gondok sangat melimpah di Danau Limboto Kabupaten Gorontalo.Hampir seluruh permukaaan danau sudah tertutup oleh enceng gondok.Penanganan terhadap enceng gondok ini belum ada dari pemerintah, walaupun sebenarnya sudah dialokasikan dana untuk penanggulangannya.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, perlu kiranya untuk menggunakan enceng gondok sebagai adsorpsi logam timbal (Pb).Hal ini penting dilakukan untuk memanfaatkan enceng gondok dan dapat menghilangkan pencemaran logam berat yang sangat membahayakan makhluk hidup.
Komposisi kimia eceng gondok tergantung pada kandungan unsur hara tempatnya tumbuh, dan sifat daya serap tanaman tersebut. Eceng gondok mempunyai sifat-sifat yang baik antara lain dapat menyeraplogam-logam berat, senyawa sulfida, selain itu mengandung protein lebih dari 11,5% dan mengandung selulosa yang lebih besar dari non selulosanya seperti lignin, abu, lemak, dan zat-zat lain. Muramoto dan Oki (dalam Anonim, 2010) menjelaskan, bahwa enceng gondok dapat digunakan untuk menghilangkan polutan, karena fungsinya sebagai sistem filtrasi biologis, menghilangkan nutrien mineral, untuk menghilangkan logam berat seperti cuprum, aurum, cobalt, strontium, timbal, timah, kadmium dan nikel.
Secara umum biomassa dapat diperoleh dari tumbuhan secara langsung maupun tidak langsung dan dimanfaatkan sebagai energi atau bahan dalam jumlah yang besar. Secara tidak langsung mengacu pada produk yang diperoleh melalui peternakan dan industri makanan.

Biomassa dapat digunakan sebagai makanan, pakan ternak, serat, bahan baku, produk kehutanan, pupuk dan bahan kimia. Biomassa merupakan bahan yang berasal dari zat-zat organik yang dapat diperbaharui, dan dari mahluk hidup baik hewan ataupun tumbuhan. Selama biomassa digunakan sebagai bahan mentah, karbonnya dapat dipertahankan di dalam bahan dan tidak memberikan efek kepada emisis gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Biomassa terdiri atas senyawa makromolekul alami yaitu selulosa, lignin dan protein.



Gambar 1. Struktur Asam Amino


Daun enceng gondok memiliki asam amino sebagai senyawa aktif dalam proses adsorpsi, hal ini didukung dengan hasil analisa kimia dari Enceng gondok dalam keadaan segar diperoleh bahwa kadar N total 0,28 %, bahan organik 36,59 %, C organik 21,23 %, P total 0,0011 % dan K total 0,016 % Hernowo, (dalam Al-Ayubi, 2007).
Enceng gondok selama ini lebih dikenal sebagai tanaman gulma. Padahal, enceng gondok sebenarnya punya kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa. Penelitian daya serap enceng gondok dilakukan terhadap besi (Fe) tahun 1999 dan timbal (Pb) pada tahun 2000 (Hasim, 2007).
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH didefinisikan sebagai kologaritmaaktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut.Pengukuran nilai pH yang sangat rendah, misalnya pada air tambang yang sangat asam,memerlukan prosedur khusus. Kalibrasi elektrode pada kasus ini dapat digunakan menggunakan larutan standar asam sulfat pekat yang nilai pH-nya dihitung menggunakan parameter Pitzer untuk menghitung koefisien aktivitas.
Logam yang terkandung dalam air jika pH makin asam maka kelarutannya makin besar, sebaliknya jika larutannya makin basa maka kelarutannya makin kecil yang ditandai adanya endapan. Larutan makin asam pengionannya makin tinggi, sebaliknya makin bersifat basa maka akan mengendap. Hal ini jelas bahwa adsorpsi lebih baik pada tingkat keasaman tinggi karena pada pH ini terjadi pengionan lebih besar dan adsorpsi dapat terjadi jika logam membentuk ion dan akan diikat oleh gugus aktif pada biomassa enceng gondok.Namun tidak demikian, karena proses adsorpsi yang lebih baik terjadi pada kisaran pH netral

METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian adalah metode penelitian eksperimental laboratorium dilakukan di selama 6 bulan, mulai April sampai dengan Oktober 2012.Desain penelitian adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi pH.Bahan yang digunakan sebagai biomassa adalah daun enceng gondok yang diperoleh dari Danau Limboto Kabupaten Gorontalo.Seangkan bahan kimia yang digunakan adalah aquades, quademineral, timbal nitrat Pb(NO3)2 dan HNO3 0,1 M.
Data konsentrasi timbal teradsorpsi diperoleh melalui pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi sisa dimana konsentrasi sisa dari tiap-tiap perlakuan didapatkan dengan menggunakan spektroskopi serapan atom (AAS). Data absorbansi yang didapatkan ditentukan nilai konsentrasinya dengan membuat kurvastandar antara absorbansi versus konsentrasi yang telah diketahui yang didapatkan dari persamaan garis y = ax.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi. Hasil analisis adsorpsi larutan Pb dengan konsentrasi larutan awal 169,79 ppb dan variasi pH 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 disajikan pada tabel 1 berikut:


Data menunjukkan adsorpsi Pb2+ oleh biomassa pada pH 3 sebanyak 109,21 ppb, pH 4 sebanyak 125,21 ppb, pH 5 sebanyak 134,87 ppb, pH 6 sebanyak 94,42 ppb, pH 7 sebanyak 90,56 ppb dan pada pH 8 sebanyak 63, 26 ppb dengan larutan kontrol Pb2+ sebesar 169,79 ppb.







Pembahasan

1. Pengaruh pH terhadap Adsorpsi Timbal(II)
Data tabel diatas menunjukkan bahwa makin tinggi pH (derajat keasaman makin kecil) dan daya adsorpsi makin besar meskipun peningkatannya tidak signifikan. Adsorpsi pada pH 3 109,21 ppb kemudian meningkat pada pH 4 menjadi 125,21 ppb dan pada pH 5 teradsorpsi sebesar 134,87 ppb. Jika dilihat dari data ini terjadi peningkatan adsorpsi pada pH 3,4 dan 5 sedangkan pH 6, 7 dan 8 adsorpsinya menurun. Hal ini menunjukkan bahwa pH berpengaruh terhadap adsorpsi logam timbaloleh biomassa enceng gondok.
Menurut Basta dan Tabatabai (1992) dalam Saadi (2008) untuk dapat menggambarkan proses adsorpsi yang berkaitan dengan pH dapat dilakukan dengan dua model yaitu adsorpsi melalui hidrolisis logam dan adsorpsi melalui pertukaran ion.

Adsorpsi melalui hidrolisis logam
M2+ + H2O ↔ MOH+ + H+
MOH+ + X- ↔ XMOH

Dimana M2+ adalah ion logam dan X- mewakili permukaan adsorben. Pada reaksi pertama ion-ion logam mengalami hidrolisis dan menghasilkan proton, kemudian pada reaksi kedua proton MOH+ diikat oleh adsorben X- . Adsorpsi yang disukai pada pH tinggi melalui pembentukan ion-ion logam atau MOH+.

Adsorpsi melalui pertukaran ion
S ─ Hα + M2+ ↔ S ─ M + H+
Dimana S-H mewakili situs adsorpsi permukaan adsorben, M2+ merupakan konsentrasi kesetimbangan ion logam S-M adalah logam teradsorpsi pada biomassa, sedangkan alfa adalah koefisien protonik. Pada proses ini terjadi kompetisi antara ion H+ dengan ion logam terhadap situs pertukaran kation. Pada pH tinggi (konsentrasi ion H+ semakin kecil) kompetisi antara ion H + dan logam makin berkurang sehingga jumlah logam teradsorpsi makin besar dibanding dengan pH rendah.
Mekanisme pertukaran kation dapat dijelaskan pula pada gambar berikut:


Gambar 2. Mekanisme Dugaan Pertukaran ion pada biomasa dan ion logam Pb(II)


Mekanisme pertukaran ion ini terjadi pada saat gugus-gugus karboksilat (COOH) pada asam-asam amino mengalami deprotonasi akibat hadirnya ion hidroksida (OH-), sehingga gugus karboksilat berubah menjadi bermuatan negatif (COO-) yang sangat reaktif untuk berikatan dengan Pb2+.
Dari kedua model di atas menunjukkan bahwa adsorpsi logam pada adsorben dipengaruhi oleh pH, dengan demikian pH merupakan variabel penting atau faktor yang dapat mempengaruhi adsorpsi logam oleh biomassa.
Berdasarkan mekanisme di atas, pengaruh pH terhadap adsorpsi Pb(II) dapat dijelaskan dengan metode hidrolisis berikut :




Hal lain yang dapat berpengaruh pada adsorpsi Pb 2+ adalah karena adanya pembentukan ikatan hidrogen. Pembentukan ikatan hidrogen diterangkan pula pada mekanisme reaksi berikut:

Gambar 3.Dugaan Mekanisme Pembentukan Ikatan hidrogen biomassa dengan Pb2+

Mekanisme pembentukan ikatan hidrogen memberikan peran yang sangat besar, karena logam Pb 2+ berada dalam keadaan terkomplekskan dengan OH.Ikatan hidrogen terjadi antara dua atom yang memiliki elektronegatifitas yang tinggi dengan hidrogen yang bersifat prototik.Oleh sebab itu adsorpsi logam Pb2+ pada biomassa dalam medium air, mekanisme pembentukan ikatan hidrogen diperkirakan memberi kontribusi terbesar.
Interaksi yang mungkin terjadi pada proses adsorpsi timbal(II) oleh biomassa daun enceng gondok adalah ikatan hidrogen, hal ini disebabkan spesiasi Pb2+ dari Pb(NO3)2 pada pelarut air berbentuk Pb(OH)(NO3)2 (Cotton, 1989), sehingga pengikatan merkuri(II) oleh biomassa bukan hanya terjadi pada atom logamnya saja akan tetapi juga dimungkinkan berikatan dengan atom H pada gugus –OH dengan ikatan hidrogen.
Pada pH 3, 4 dan 5 adsorpsi biomassa terhadap logam makin besar, hal ini disebabkan pada kondisi tersebut ion H+ semakin berkurang dan kesetimbangan bergeser kearah kanan sesuai dengan asas Le Chatelier yaitu apabila suatu sistem kesetimbangan salah satu dikurangi maka kesetimbangan bergeser ke arah yang dikurangi tersebut. Dengan adanya pergeseran kesetimbangan PbOH+ bertambah menyebabkan daya serap enceng gondok terhadap ion logam (Pb) semakin besar.
Pada pH 6, 7 dan 8 daya serap biomassa enceng gondok menurun, hal ini disebabkan kemungkinan karena konsentrasi PbOH+ H daya serap biomassa berkurang. Keadaan ini kemungkinan terjadi juga karena pH makin tinggi maka akan bersifat basa sehingga kelarutan Pb makin kecil dan mulai terjadi pengendapan. Hal ini memungkinkan Pb yang terserap makin sedikit.

2.Penentuan pH Optimum adsorpsi logam Timbal(II) oleh biomassa enceng gondok
Dugaan dalam penelitian ini adalah bahwa situs-situs aktif yang terdapat pada biomassa daun enceng gondok merupakan protein yang mempunyai satuan-satuan asam amino sebagai penyusunnya. Interaksi antara Pb2+ dan adsorben biomassa daun enceng gondok terjadi karena adanya gaya elektrostatik antara muatan negatif adsorben yang bertindak sebagai situs aktif dengan muatan positif dari ion logam.
Ion logam terutama logam transisi dapat membentuk ikatan dengan senyawa asam amino karena adanya elektron bebas yang terdapat pada atom oksigen pada gugus fungsional senyawa asam amino berupa –COOH setelah terdeprotonasi.Efektifitas interaksi antara ion logam dengan senyawa asam amino sangat tergantung terhadap spesiasi gugus yang dikandungnya dalam larutan. Gugus fungsional –COOH akan terdeprotonasi menjadi –COO- yang nantinya akandigunakan untuk berikatan dengan logam Pb2+. Gugus fungsional –COOH dan –NH2 yang dimiliki oleh asam amino ini memiliki spesiasi yang berbeda pada pH tertentu. Spesiasi gugus fungsional –COOH dan –NH2 dapat dilihat pada gambar berikut:



Gambar 4. Spesiasi Gugus aktif pada asam amino (lehninger, 1982)

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa akibat hadirnya ion H+ gugus-gugus yang terdapat dalam biomassa daun enceng gondok akan mengalami protonasi dan memilki muatan positif yang sangat reaktif terhadap spesiasi dalam bentuk anion dan akibat hadirnya ion OH- gugus-gugus yang dimiliki oleh biomassa daun enceng gondok mengalami deprotonasi dan memiliki muatan negatif yang sangat reaktif terhadap spesiasi logam dalam bentuk kation.Seperti halnya Pb2+akan teradsorpsi oleh biomassa daun enceng gondok pada saat gugus-gugus aktif pada biomassa daun enceng gondok mengalami deprotonasi.
Spesiasi gugus pada asam amino dipengaruhi oleh titik isoelektrik yang dimiliki oleh asam amino. Dengan mengetahui titik isoelektrik dapat diramalkan muatan dari asam amino akibat protonasi atau deprotonasi pada tiap-tiap perubahan pH larutan. Dengan mengetahui titik isoelektik asam amino pada daun biomassa enceng gondok dapat membantu memprediksikan situs aktif biomassa yang berfungsi sebagai pengikat Pb2+ Lehninger (1982). Pemprediksian kandungan asam amino dilakukan dengan cara mencari senyawa asam amino yang mempunyai titik isoelektrikkurang dari 6 atau sama dengan 6, karena titik isoelektrik dari 20 asam amino lebih banyak berada pada titik tersebut, Lehninger (1982).
Hasil analisis AAS diperoleh bahwa pada pH 3, 4 dan 5 konsentrasi Pb2+ yang teradsorpsi meningkat.Hal ini terjadi karena pH makin besargugus-gugus asam amino mengalami deprotonasi dan memiliki muatan negatif yaitu ion OH- yang sangat reaktif terhadap logam, sehingga logam yang teradsorpsi makin besar.Pada pH 6, 7 dan 8 konsentrasi Pb2+ yang teradsorpsi menurun.Hal ini kemungkinan disebabkan karena konsentrasi pada keadaan ini terjadi kesetimbangan situs aktif biomassa dengan ion logam dan pada kondisi ini pH mulai mengendap. Hal ini dimungkingkan pH optimum berada pada kisaran 5

Penutup
1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Variasi pH dapat berpengaruh terhadap adsorpsi logam timbal (Pb) oleh biomassa daun enceng gondok. Pb2+ yang teradsorpsi masing-masing adalah pada pH 3 diperoleh 109,21 ppb, pH 4 diperoleh 125,21 ppb, pada pH 5 teradsorpsi sebesar 134,87 ppb, pH 6 teradsorpsi 94,42 ppb, pH 7 sebesar 90,56 ppb dan pH 8 sebesar 63, 26 ppb.
2. pH 5 merupakan pH optimum adsorpsi timbal (Pb) oleh biomassa enceng gondok.

2. Implikasi dan Saran
Adapun saran-saran dari penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk mengkaji lebih memperdalam masalah ini.
2. Dalam penelitian ini perlu penelitian lanjutan terutama variasi konsentrasi pada pH optimum, proses terjadinya ikatan, pemerangkapan, ikatan kompleks yang terjadi pada proses adsorpsi.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, R. 2004, Kimia Lingkungan, Edisi I Yogyakarta: ANDI; Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.

Anonim, 2010, pemanfaatan enceng gondok.From: http: // menyelamatkan danau limboto. wordpress.com/ teknologi-pengendalian-pencemaran-air/pemanfaatan-eceng-gondok/. Diakses 1 Maret 2012

Al-Ayubi, M.Ch. 2007, Skripsi: Studi Kesetimbangan Adsorpsi Merkuri (II) pada biomassa daun enceng gondok (Eichhornia crassipes).UIN Malang.
Falah, Sirojul U. 2003, "Eceng Gondok, Gulma Sahabat Manusia?". Harian Pikiran Rakyat. 28 September 2003. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0903/28/1001.htm. di akses 27 Februari 2012.

Hasim., 2007, enceng gondok pembersih logam berat, www.kompas.com/kompas-tak/0307/02/inspirasi/404854.htm - 40k -, diakses pada tanggal 27 Februari 2012.
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia.

Mahdian dan Saadi, Parham.2008, Jurnal.Pengaruh Konsentrasi dan pH Larutan Terhadap Adsorpsi Timbal(II) dan Kadmium(II) Pada Adsorben Biomassa Apu-apu Dengan Metode Statis.Kalimantan Scientiae. No. 71 Th.XXVI Vol April 2008.

Rahman, A. 2006, Kandungan Logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) padaBeberapa Jenis Krustasea Di Pantai Batakan dan Takisung Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.Bioscientiae Vol. 3, No. 2. Juli 2006

Sahara, E. 2009, Jurnal : Distribusi Pb dan Cu pada berbagai ukuran partikel dan sedimen pelabuhan Benoa.

Sudarwin, 2008.Analisis Spasial Pencemaran logam berat (Pb dan Cd) pada sedimen aliran sungai dari tempat pembuangan akhir (TPA)sampah Jatibarang Semarang.


Underwood A. L. & Day, R.A., 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, alih bahasa sopyan, Erlangga, Jakarta

FORMAT PENULISAN DOKUMEN NASKAH RINGKAS & MAKALAH

Dokumen naskah ringkas yang dimaksud pada pedoman ini merupakan ringkasan
tugas akhir yang diubah bentuknya ke dalam format artikel jurnal. Penulisan artikel
jurnal umumnya mempunyai format berstandar internasional yang dikenal dengan
AIMRaD, singkatan dari Abstract, Introduction, Material and Methods, Results,
and Discussion atau Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan
Pembahasan. Format penulisan artikel ini dapat bervariasi berdasarkan rumpun ilmu
namun secara umum tetap mengacu kepada format tersebut.

1. Ketentuan Umum Penulisan Dokumen Naskah Ringkas
Ketentuan untuk penulisan naskah ringkas adalah sebagai berikut:
-          Naskah ringkas diketik menggunakan tipe Times New Roman 12 poin dengan spasi 1,5 (line spacing = 1.5 lines)
-          Ukuran kertas A4
-          Menggunakan format satu kolom, dan margins: last costum setting (top 2,5 cm; left 2,5 cm; bottom 2,5 cm; right 2,5 cm)
-          Panjang naskah adalah 15 – 20 halaman, termasuk gambar, grafik atau tabel ( jika ada) yang menyertainya
2. Struktur Dokumen Naskah Ringkas
Naskah ringkas terdiri dari bagian-bagian berikut ini:
a. Judul Artikel
Judul ditulis dengan menggunakan huruf Times New Roman 14 point (pt), cetak tebal,
dengan spasi 1 dan ditempatkan simetris di tengah.
b. Nama Penulis
-          Nama penulis, ditulis di bawah judul. Jarak antara judul dan nama penulis diberi satu spasi kosong, dengan ukuran huruf 14 pt
-          Nama penulis terdiri dari nama mahasiswa (sebagai penulis pertama) dan pembimbing (sebagai penulis kedua, dst) ditulis tanpa menggunakan gelar dengan huruf 12 pt
-          Nama program studi dan fakultas (nama lembaga) ditulis di bawah nama penulis. Jarak antara nama penulis dan lembaga diberi satu spasi kosong, dengan ukuran huruf 12 pt
-          Email penulis pertama ditulis di bawah nama lembaga. Email ditulis dengan ukuran huruf 10 pt dan dicetak miring (italics). Jarak antara nama lembaga dan email diberi satu spasi kosong, dengan ukuran huruf 12 pt
c. Abstrak
-          Abstrak merupakan ikhtisar suatu tugas akhir yang memuat latar belakang atau permasalahan, tujuan, metode penelitian, hasil, dan kesimpulan
-          Abstrak ditulis dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris)
-          Diantara teks abstrak bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tertulis judul artikel dalam bahasa Inggris
-          Kata “Abstrak” dicetak tebal dengan ukuran huruf 12 pt dan diletakkan simetris. Jarak antara email dan kata “Abstrak” diberi dua spasi kosong, dengan ukuran huruf 12 pt
-          Teks abstrak bahasa Indonesia ditulis setelah kata “Abstrak” dengan jarak satu spasi kosong, dengan ukuran huruf 12 pt
-          Abstrak bahasa Inggris diletakkan setelah abstrak bahasa Indonesia. Kata “Abstract” sebagai penanda abstrak bahasa Inggris dicetak tebal dengan ukuran huruf 12 pt dan diletakkan simetris dengan jarak satu spasi kosong ukuran huruf 12 pt.
-          Teks abstrak bahasa Inggris ditulis setelah kata “Abstract” dengan jarak dua spasi kosong, dengan ukuran huruf 12 pt
-          Teks abstrak ditulis dalam satu paragraf yang terdiri dari 150 – 200 kata dengan menggunakan huruf Times New Roman 10 pt dengan spasi satu
-          Di bawah teks abstrak dicantumkan kata kunci (keyword) yang terdiri atas 3 sampai 5 kata dan/atau kelompok kata yang ditulis sesuai urutan abjad. Antara kata kunci dipisahkan oleh titik koma (;)
-          Keyword ditulis dalam bahasa Inggris dengan ukuran huruf 10 pt dan dicetak miring (italics). Jarak antara abstrak bahasa Inggris dan keyword adalah satu spasi kosong dengan ukuran huruf 12 pt
d. Pendahuluan / Latar Belakang
-          Isi bagian pendahuluan ditulis ringkas umumnya terdiri atas latar belakang masalah, permasalahan dan tujuanpenelitian
-          Pendahuluan ditulis setelah keyword, dengan jarak tiga spasi kosong dan ukuran huruf 12 pt
-          Tulisan “Pendahuluan” menggunakan huruf 12pt dengan cetak tebal
-          Ada jarak satu spasi kosong dengan ukuran huruf 10 pt sebelum menulis isi pendahuluan
e. Tinjauan Teoritis
-          Isi bagian tinjauan teoritis ditulis ringkas, dan hanya teori yang benar-benar digunakan sebagai dasar penelitian
-          Tinjauan teoritis ditulis setelah pendahuluan, dengan jarak dua spasi kosong dan ukuran huruf 12 pt
-          Tulisan “Tinjauan Teoritis” menggunakan huruf 12pt dengan cetak tebal
-          Ada jarak satu spasi kosong dengan ukuran huruf 10 pt sebelum menulis isi Tinjauan Teoritis
-          Pembahasan berikutnya seperti Metode Penelitian, Hasil Penelitian, Pembahasan, Kesimpulan, Saran dan Kepustakaan cara penulisan sama dengan Tinjauan Teoritis dan Pendahuluan
f. Metode Penelitian
Informasikan secara ringkas mengenai materi dan metode yang digunakan dalam
penelitian, meliputi subyek/bahan yang diteliti, alat yang digunakan, rancangan
percobaan atau desain yang digunakan, teknik pengambilan sampel, variabel yang
akan diukur, teknik pengambilan data, analisis dan model statistik yang digunakan.
g. Hasil Penelitian
Isi bagian hasil penelitian ditulis ringkas. Hasil penelitian dapat disajikan dengan
dukungan tabel, grafik atau gambar sesuai kebutuhan, untuk memperjelas penyajian
hasil secara verbal.
h. Pembahasan
Isi bagian pembahasan ditulis ringkas , dikaitkan dengan teori yang digunakan

i. Kesimpulan
Isi bagian kesimpulan ditulis ringkas dan harus menjawab masalah penelitian
j. Saran
Isi bagian saran ditulis ringkas. Berisi saran yang dapat dilakukan untuk penelitian
selanjutnya dan saran-saran aplikatif (bila ada)
k. Daftar Referensi
Isi bagian kepustakaan, hanya pustaka yang digunakan yang tertulis pada naskah
Ringkas.

Di bawah ini adalah format artikel yang mengadopsi format MAKARA : Seri Sosial
Humaniora, yang telah disesuaikan dengan kebutuhan Perpustakaan UI.
Format Artikel.

Judul Artikel
(14 pt, bold, centered) (kosong satu spasi tunggal, 14 point font)
Penulis Pertama, Penulis Kedua, dan Penulis Ketiga (12 pt) (kosong satu spasi tunggal, 12 pt)
1. Department, Faculty, University, Address, City, Zip Code, Country (10 pt)
2. Departement, Faculty, University, Address, City, Zip Code, Country (10 pt)
(kosong satu spasi tunggal, 12 pt)
E-mail: author@address.com (10 pt, italics)
(kosong dua spasi tunggal, 12 pt)

Abstrak (12 pt, bold)
(kosong satu spasi tunggal, 12 pt)
Abstrak pada bagian ini berbahasa Indonesia. Ditulis dengan menggunakan huruf Times New Roman dengan ukuran huruf 10 dan spasi tunggal. Abstrak merupakan ikhtisar suatu tugas akhir yang memuat latar belakang atau permasalahan, tujuan, metode penelitian, hasil , dan kesimpulan. Abstrak ditulis dalam satu paragraf dan tidak melebihi dari 200 kata. (kosong dua spasi tunggal, 12 pt)


Title in English
(12 pt, bold) (kosong satu spasi tunggal, 12 pt)

Abstract (12 pt, bold)
(kosong satu spasi tunggal, 12 pt) Abstract should be written in English. The abstract is written with Times New Roman font size 10, and single spacing. The abstract should summarize the content of the paper, including the aim of the research, research method, and the results, and the conclusions of the paper. It should not contain any references or displayed equations. The abstract should be no more than 200 words. (kosong satu spasi tunggal, 12 pt) Keywords: up to 5 keywords in English (10 pt, italics) (three blank single space lines, 12 pt, bold)

Pendahuluan
(12 pt, bold) (kosong satu spasi tunggal, 10 pt)
Naskah ringkas ditulis menggunakan tipe huruf Times New Roman ukuran 12 pt,
dengan spasi 1,5 (line spacing = 1.5 lines). Ukuran kertas yang digunakan adalah A4
(210 mm x 297 mm) dengan menggunakan format satu kolom, dan margins: last
costum (top 2,5 cm; left 2,5 cm; bottom 2,5 cm; right 2,5 cm). Panjang naskah adalah
15 – 20 halaman, termasuk gambar, grafik atau tabel (jika ada) yang menyertainya
Naskah ringkas yang dimaksud pada pedoman ini merupakan ringkasan tugas akhir
yang diubah bentuknya ke dalam format artikel jurnal.

Penulisan artikel jurnal umumnya mempunyai format berstandar internasional yang dikenal dengan AIMRaD,
singkatan dari Abstract, Introduction, Material and Methods, Results, and Discussion
atau Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan. Format
penulisan artikel ini dapat bervariasi berdasarkan rumpun ilmu namun secara umum
tetap mengacu kepada format tersebut.

Dalam petunjuk teknis ini, setelah Pendahuluan diikuti dengan pembahasan mengenai
Tinjauan Teoritis, Metode Penelitian, Hasil Penelitian, Pembahasan, Kesimpulan,
Saran dan Kepustakaan. Cara penulisan untuk tiap pembahasan adalah sama.
Tabel (12 pt, bold)
(kosong satu spasi tunggal, 10 pt)
Jika dalam suatu pembahasan ada format dalam bentuk tabel, cara penulisan tabel
dengan menggunakan huruf Times New Roman 10 pt spasi tunggal. Demikian pula
halnya dengan judul tabel tersebut, menggunakan huruf Times New Roman 10 pt
dengan cetak tebal dan spasi tunggal. Nomor tabel menggunakan angka Arab. Jarak
antara teks dengan judul tabel adalah satu spasi dengan ukuran huruf 10 pt sama
dengan jarak antara judul tabel dan tabelnya. Sedangkan jarak setelah tabel ke teks
berikutnya adalah dua spasi dengan ukuran huruf 10 pt. Seperti contoh di bawah ini.
(kosong satu spasi tunggal, 10 point font)

Table 1. Number of Testing of WFF Triple NA=15 or NA=8
(kosong satu spasi tunggal, 10 pt)
NP
NC 3 4 8 10
3 1200 2000 2500 3000
5 2000 2200 2700 3400
8 2500 2700 16000 22000
10 3000 3400 22000 28000
(kosong dua spasi tunggal, 10 pt)

Gambar (12 pt, bold)
(kosong satu spasi tunggal, 10 pt)
Gambar diletakkan di tengah halaman dan diberi jarak satu spasi antara gambar dan
teks di atasnya. Keterangan gambar (caption) terletak di bawah gambar dengan
menggunakan ukuran huruf 9 pt cetak tebal. Sedangkan jarak antara gambar dan
keterangannya adalah satu spasi dengan ukuran huruf 10 pt. Jarak antara keterangan
gambar dengan teks berikutnya adalah dua spasi ukuran huruf 10 pt. Berikut adalah
contohnya:
(kosong satu spasi tunggal, 10 point font)

Figure 1. The labeling of I tree is according to the order of the appearance
(kosong dua spasi tunggal, 10 pt)
Jika gambar yang digunakan adalah karya orang lain, penulis harus sudah mendapat
ijin untuk diterbitkan dari pemiliknya.

Daftar Referensi
(kosong satu spasi tunggal, 10 pt)
Daftar referensi atau daftar acuan berisi daftar pustaka yang digunakan untuk menulis
naskah ringkas atau artikel ini. Penulisan referensi harus sesuai dengan APA
(American Psychological Association) format. Di bawah ini adalah contoh penulisan
referensi dengan format APA :

Books:
Creswell, J.W. (2008). Educational research: Planning, conductiong, and evaluating quantitative and qualitative research (3rd ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education, Inc.

Book chapter:
Markus, H.R., Kitayama, S., & Heiman, R.J. (1996). Culture and basic psychological principles. Dalam
E.T. Higgins & A.W. Kruglanski (Eds.), Social psychology: Handbook of basic principles. New York: The Guilford Press. Online document: Van Wagner, K. (2006). Guide to APA format. Abou Psychology. Accessed on November 16, 2006 from http://psychology.about.com/od/ apastyle/guide.

Journal Article:
Wassman, J., & Dasen, P.R. (1998). Balinese spatial orientation. Journal of Royal Anthropological Institute, 4, 689-731.

Online journal:
Jenet, B.L. (2006). A meta-analysis on online social behavior. Journal of Internet Psychology, 4.
Accessed on November 16, 2006 from http://www.Journalofinternetpsychology.com/archives/volume4/ 3924.html.

Article from a Database:
Henriques, J.B., & Davidson, R.J. (1991) Left frontal hypoactivation in depression. Journal of
Abnormal Psychology, 100, 535-545. Diambil 16 November 2006 dari PsychINFO database.
Online Forums, Discussion Lists, or Newsgroups: Leptkin, J.L. (2006, November 16). Study tips for psychology students [Msg. 11]. Message were rely on http://groups.psychelp.com/forums/messages/48382.html.

Magazine:
Santamaria, J.O. (September 1991). How the 21st century will impact on human resource development (HRD) professionals and practitioners in organizations. Paper was presented on International Conference on Education, Bandung, Indonesia. Theses, Dissertation: Santoso, G.A. (1993). Faktor-faktor sosial-psikologis yang berpengaruh terhadap tindakan orang-tua untuk melanjutkan pendidikan anak ke sekolah lanjutan tingkat pertama (Studi lapangan di pedesaan Jawa Barat dengan analisis model persamaan struktural). Disertasi doktoral, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.

Research Report:
Villegas, M., & Tinsley, J. (2003). Does education play a role in body image dissatisfaction? Laporan Penelitian, Buena Vista University. Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia. (2006). Survei nasional penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok rumah tangga di Indonesia, 2005. Depok: Pusat Penelitian UI dan Badan Narkotika Nasional.

Encyclopedia, dictionary:
Sadie, S. (Ed.). (1980). The new Grove dictionary of music and musicians (6th ed., Vols. 1-20).
London: Macmillan.

3. Format Makalah
Ketentuan penulisan dokumen naskah ringkas di atas dapat dipergunakan untuk penulisan
bagian isi makalah dan dapat disesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh program
studi. Format penulisan makalah terdiri dari:

- Bagian Awal
a. Halaman Judul
Halaman judul memberikan informasi berupa judul, jenis karya, identitas
penulis, institusi, dan tahun penulisan. Ketentuan mengenai penulisan halaman
judul pada makalah sama dengan tugas akhir, contoh dapat dilihat pada
Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Indonesia.
b. Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan berfungsi untuk menjamin keabsahan karya atau
pernyataan tentang penerimaannya. Contoh dapat dilihat pada Pedoman Teknis
Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Indonesia.
c. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan
Akademis
Halaman ini berisi pernyataan dari mahasiswa penyusun karyanya yang
memberikan kewenangan kepada Universitas Indonesia untuk menyimpan,
mengalih-media/format-kan, merawat, dan memublikasikan karyanya untuk
kepentingan akademis. Artinya, Unversitas Indonesia berwenang untuk
memublikasikan suatu karyanya hanya untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan, sedangkan hak cipta tetap pada penulis. Contoh dapat dilihat
pada Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Universitas
Indonesia.

- Bagian Isi
Isi makalah disampaikan pada bagian ini. Ketentuan penulisan pada makalah ini
dapat menggunakan ketentuan penulisan dokumen naskah ringkas yang sudah
dijelaskan di atas. Bagian isi antara lain terdiri :
a. Judul Makalah
b. Nama Penulis
c. Abstrak Indonesia
d. Abstrak Inggris
e. Pendahuluan/Latar Belakang
f. Isi Makalah, dst.

- Bagian Akhir
a. Daftar Referensi

b. Lampiran (jika ada)